Petani Jember Antusias! Mahasiswa KKN Kenalkan Pupuk Organik dari Kotoran Hewan

Narasumber bersama peserta saat kegiatan Sarasehan di Balai Desa Sumber Wringin
Acara ini dihadiri puluhan warga desa, mayoritas berprofesi sebagai petani dan peternak. Sarasehan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan limbah ternak menjadi pupuk organik yang lebih ramah lingkungan. Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN menghadirkan dua narasumber utama, yakni Heridianto, dosen pembimbing lapangan (DPL) serta Riskiyanto, seorang praktisi pertanian yang telah lama berkecimpung dalam pengolahan pupuk organik.
Riskiyanto menjelaskan bahwa kotoran hewan, khususnya sapi dan kambing, mengandung unsur hara penting bagi tanaman. Sayangnya, banyak petani masih bergantung pada pupuk kimia karena dianggap lebih praktis, meskipun dampaknya terhadap lingkungan cukup signifikan.
"Kotoran hewan yang selama ini dianggap sebagai limbah sebenarnya bisa diolah menjadi pupuk organik dengan nilai ekonomi tinggi. Penggunaan pupuk organik mampu meningkatkan kesuburan tanah, menjaga keseimbangan ekosistem mikro, serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya semakin mahal," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa selain lebih ekonomis, pupuk organik membantu menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang. Sebab, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dapat menyebabkan degradasi tanah, membuatnya menjadi keras dan kurang subur.
Heridianto menjelaskan bahwa terdapat dua metode utama dalam mengolah kotoran hewan menjadi pupuk organik, yaitu fermentasi dan pengomposan.
"Dalam metode fermentasi, kotoran hewan dicampur dengan sekam padi, serbuk gergaji, atau dedak, lalu ditambahkan larutan EM4 (Effective Microorganisms) agar proses fermentasi berjalan lebih cepat. Setelah didiamkan beberapa minggu, pupuk siap digunakan," katanya.
Sementara itu, dalam metode pengomposan, kotoran hewan ditumpuk dalam wadah atau lubang tanah dan dibiarkan membusuk secara alami dengan bantuan mikroorganisme. Cara ini memerlukan waktu lebih lama, tetapi hasilnya sangat baik untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari warga Desa Sumber Wringin. Banyak petani dan peternak tertarik untuk mulai memproduksi pupuk organik setelah mengetahui manfaatnya.
H. Hairul seorang petani setempat, mengaku mendapatkan wawasan baru setelah mengikuti kegiatan ini.
"Selama ini saya selalu membeli pupuk kimia karena tidak tahu cara mengolah kotoran ternak menjadi pupuk. Ternyata, kalau diolah dengan benar, kotoran ternak bisa menjadi pupuk yang lebih murah dan bermanfaat," katanya.
Selain bermanfaat bagi pertanian, pupuk organik juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Heridianto mengatakan bahwa jika dikelola dengan baik, petani dapat memproduksi pupuk dalam jumlah besar dan memasarkannya ke petani lain atau toko pertanian.
"Permintaan pupuk organik terus meningkat karena banyak petani mulai sadar akan pentingnya pertanian yang lebih ramah lingkungan. Ini bisa menjadi peluang usaha bagi masyarakat," ujarnya.
Mahasiswa KKN Posko 05 berharap agar pengetahuan yang dibagikan dalam sarasehan ini dapat diterapkan secara berkelanjutan. Salah satu mahasiswa KKN, Maghfiroh, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mereka dalam mendukung pertanian berkelanjutan.
"Kami berharap ilmu yang kami bagikan bisa diterapkan oleh masyarakat. Kami juga siap membantu jika ada warga yang ingin belajar lebih dalam tentang pembuatan pupuk organik," kata Maghfiroh.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa KKN berencana mendampingi petani yang ingin mengolah pupuk organik secara mandiri. Mereka juga akan membantu mencari pasar bagi pupuk yang dihasilkan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa program KKN tidak hanya memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Pemanfaatan kotoran hewan sebagai pupuk organik diharapkan dapat meningkatkan sektor pertanian di Desa Sumber Wringin.
Keberlanjutan program semacam ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk akademisi, pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Pemerintah desa diharapkan dapat memberikan fasilitas pendukung agar inovasi ini terus berkembang dan memberikan manfaat lebih luas.
Pelatihan lanjutan mengenai teknik produksi pupuk organik yang lebih efektif serta strategi pemasaran menjadi tantangan ke depan. Dengan kerja sama yang baik antara mahasiswa, akademisi, dan masyarakat, pertanian berkelanjutan berbasis pupuk organik dapat menjadi solusi nyata dalam menghadapi tantangan pertanian modern.
Kegiatan KKN ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terlibat dalam pengabdian masyarakat dengan membawa inovasi dan solusi yang aplikatif. Dengan langkah konkret seperti ini, diharapkan pertanian yang lebih ramah lingkungan dapat terwujud secara nyata. (**)
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Undefined variable: ub
Filename: depan/kanan.php
Line Number: 121
Backtrace:
File: /home/staz5149/public_html/application/views/depan/kanan.php
Line: 121
Function: _error_handler
File: /home/staz5149/public_html/application/controllers/Blog.php
Line: 107
Function: view
File: /home/staz5149/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once
Komentar