
Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso

Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso
Artikel
HUMAS, TULUNGAGUNG – Program
Studi Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Utsmani Bondowoso
turut mengambil bagian dalam kegiatan International Community Service yang
diselenggarakan di Pantai Sine, Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten
Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (8/9/2026). Kegiatan pengabdian masyarakat
berskala internasional ini menjadi bagian dari kolaborasi Asosiasi Program
Studi Ekonomi Syariah Indonesia (APSESI) bersama akademisi dari berbagai
perguruan tinggi di Indonesia dan mitra internasional.
STAI Al-Utsmani Bondowoso dalam
kegiatan tersebut diwakili oleh Ketua Program Studi Ekonomi Syariah, Dr.
Haqiqotus Sa’adah, M.E., dan Sekretaris Program Studi Ekonomi Syariah, M.
Hibatullah Huwaidi, S.E., S.Ag., M.E. Keikutsertaan keduanya menegaskan
komitmen Prodi Ekonomi Syariah STAI Al-Utsmani dalam memperluas jejaring
akademik sekaligus menghadirkan keilmuan ekonomi syariah agar semakin dekat
dengan persoalan nyata masyarakat.
Kegiatan mengusung semangat
penguatan ketahanan ekonomi nelayan dan pelaku UMKM pesisir melalui literasi
keuangan syariah, pengembangan usaha halal, serta pendekatan blue economy.
Forum ini mempertemukan akademisi Program Studi Ekonomi Syariah jenjang sarjana
dan magister dari puluhan perguruan tinggi, praktisi industri keuangan syariah,
pakar internasional, serta masyarakat dan pengelola wisata Pantai Sine.
Literasi keuangan syariah menjadi
salah satu isu utama yang dibahas. Dr. Binti Nur Asiyah, M.Si., selaku Ketua
Umum APSESI sekaligus Koordinator Program Studi Magister Ekonomi Syariah UIN
Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, mengulas pentingnya penguatan kebiasaan
pengelolaan keuangan bagi masyarakat nelayan. Pemanfaatan instrumen dan akad
syariah, termasuk wadi’ah, dipandang dapat menjadi pintu masuk untuk membangun
rasa aman dalam menyimpan pendapatan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi
rumah tangga pesisir.
Dari sisi industri, Bank Syariah
Indonesia (BSI) Tulungagung menyampaikan dukungan terhadap penguatan akses
keuangan masyarakat pesisir. Layanan tabungan, investasi, dan pembiayaan usaha
dapat dikembangkan untuk mendukung aktivitas perdagangan ikan maupun
pengembangan UMKM lokal. Penguatan akses tersebut diharapkan tidak hanya
memperluas inklusi keuangan, tetapi juga mendorong masyarakat menggunakan layanan
keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah.
Aspek penguatan UMKM juga
mendapat perhatian melalui pentingnya sertifikasi halal. Standardisasi produk
dinilai menjadi langkah strategis agar produk-produk masyarakat pesisir
memiliki nilai tambah, meningkatkan kepercayaan konsumen, dan mampu menjangkau
pasar yang lebih luas. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat pesisir tidak
berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga menyentuh kualitas, legalitas,
dan daya saing produk.
Perspektif internasional mengenai
blue economy disampaikan oleh Dr. Asif Iqbal Siddiqui, Director ESG &
Sustainability Circular Economics Pte Ltd., yang hadir sebagai speaker
internasional. Pembahasan menekankan bahwa peningkatan ekonomi pesisir harus
berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem laut. Pengelolaan sampah,
pengurangan pencemaran, dan pemanfaatan sumber daya pesisir secara
berkelanjutan menjadi bagian penting karena kualitas lingkungan laut berkaitan
langsung dengan produktivitas perikanan dan keberlangsungan mata pencaharian
masyarakat.
Diskusi semakin kontekstual
ketika perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Sine memaparkan
realitas sosial-ekonomi masyarakat setempat. Salah satu persoalan yang muncul
adalah pergeseran sebagian nelayan menjadi pedagang setelah berkembangnya
sektor wisata. Ketidakpastian hasil tangkapan dan biaya operasional melaut yang
dapat mencapai sedikitnya Rp200.000 dalam sekali perjalanan menjadi
pertimbangan ekonomi bagi sebagian warga.
Persoalan lingkungan juga menjadi
tantangan tersendiri. Pokdarwis telah melakukan pemilahan sampah serta aksi
bersih pantai secara berkala, namun masih menghadapi akumulasi “sampah kiriman”
yang terbawa aliran sungai menuju kawasan Pantai Sine. Kondisi tersebut
memperlihatkan bahwa pengelolaan ekonomi pesisir membutuhkan kerja sama lintas
sektor karena persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya oleh
masyarakat di kawasan pantai.
Dalam diskusi juga mengemuka
persoalan literasi keuangan masyarakat. Kemampuan menabung dinilai masih
menjadi tantangan, sementara praktik berutang lebih dekat dengan kebiasaan
ekonomi sebagian warga. Situasi ini memperkuat pentingnya pendampingan yang
tidak hanya bersifat satu kali, melainkan berkelanjutan dan disusun berdasarkan
kebutuhan riil masyarakat.
Bagi Prodi Ekonomi Syariah STAI
Al-Utsmani Bondowoso, keikutsertaan dalam International Community Service
ini menjadi ruang penting untuk memperkuat implementasi Tridharma Perguruan
Tinggi. Pengalaman lapangan mengenai nelayan, UMKM pesisir, literasi keuangan
syariah, industri halal, dan blue economy dapat menjadi bahan
pengembangan pembelajaran, penelitian, serta program pengabdian kepada
masyarakat yang lebih kontekstual.
Kegiatan tersebut juga membuka
peluang kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi melalui jejaring APSESI.
Kolaborasi dapat diarahkan pada penelitian bersama, publikasi ilmiah, visiting
lecturer, pengembangan kurikulum, hingga program pemberdayaan masyarakat
yang berkelanjutan.
Melalui keterlibatan Kaprodi dan
Sekprodi Ekonomi Syariah dalam forum ini, STAI Al-Utsmani Bondowoso menegaskan
komitmennya untuk terus memperluas jejaring dan menghadirkan ekonomi syariah
yang berdampak. Sinergi antara literasi keuangan syariah, penguatan UMKM halal,
dan tata kelola lingkungan berbasis blue economy diharapkan menjadi salah satu
model penguatan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya di wilayah
selatan Jawa. (*)
Pewarta : Haqiqotus Sa’adah
Editor : Heridianto
©Tim IT STAI Al Utsmani 2024

