
Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso

Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso
Artikel
Di tengah hiruk-pikuk dunia
pendidikan tinggi yang sering kali terlalu sibuk pada urusan administratif, ada
satu hal yang sesungguhnya tidak boleh diabaikan: martabat akademik sebuah
kampus sangat ditentukan oleh tradisi ilmiahnya. Dan salah satu wajah paling
nyata dari tradisi itu adalah jurnal ilmiah.
Karena itu, capaian dua jurnal
STAI Al-Utsmani, yaitu Jurnal MPI dan Jurnal Ekonomi Syariah, yang berhasil
meraih akreditasi SINTA 4, patut disyukuri sebagai kabar baik yang tidak biasa.
Ini bukan sekadar soal peringkat, melainkan tentang pengakuan atas kerja
intelektual yang tumbuh dan dirawat dengan sungguh-sungguh.
Dalam konteks lokal Bondowoso,
capaian ini memiliki makna yang lebih penting. Ia menunjukkan bahwa kampus
berbasis keislaman dan pesantren pun dapat hadir bukan hanya sebagai ruang
transmisi nilai, tetapi juga sebagai pusat produksi pengetahuan. Bahwa kampus
tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menghasilkan ilmu.
Pada titik inilah jurnal ilmiah
menjadi penting untuk dipahami secara lebih dalam. Jurnal bukan hanya tempat
menerbitkan tulisan dosen. Ia adalah ruang pertarungan gagasan, arena di mana
nalar diuji, metodologi dipertanggungjawabkan, dan ilmu pengetahuan terus
diperbarui. Kampus yang memiliki jurnal berkualitas pada dasarnya sedang
membangun otoritas intelektualnya.
Karena itu, keberhasilan menembus
SINTA 4 semestinya dibaca sebagai tanda awal dari sebuah kebangkitan akademik.
Ia menunjukkan bahwa kampus telah memiliki fondasi. Tetapi fondasi, sekuat apa
pun, tidak akan bermakna bila tidak diteruskan menjadi bangunan yang lebih
tinggi.
Maka pertanyaan pentingnya
adalah: apakah kita akan berhenti pada kebanggaan, atau melanjutkannya menjadi
gerakan kemajuan?
Di sinilah tantangan sesungguhnya
dimulai. Menaikkan kualitas jurnal dari SINTA 4 menuju SINTA 2, SINTA 1, bahkan
indeksasi internasional seperti Scopus, jelas bukan pekerjaan mudah. Ia
memerlukan ketekunan, disiplin tata kelola, keberanian memperbaiki standar, dan
yang tak kalah penting, dukungan institusional yang nyata.
Harus diakui, jurnal yang sehat
tidak lahir dari semangat semata. Ia memerlukan infrastruktur akademik: editor
yang kuat, reviewer yang aktif, penulis yang produktif, pendampingan artikel,
manajemen digital yang baik, jejaring ilmiah yang luas, dan pembiayaan yang
cukup. Tanpa itu semua, jurnal hanya akan berjalan di tempat.
Karena itu, sudah saatnya kampus
melihat jurnal bukan sebagai pelengkap administrasi, tetapi sebagai investasi
reputasi jangka panjang. Dalam dunia perguruan tinggi modern, nama besar
institusi tidak hanya dibangun dari jumlah mahasiswa, luas gedung, atau
seremonial akademik, melainkan dari kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan.
Jurnal yang maju akan melahirkan
banyak efek positif. Ia mendorong dosen untuk lebih produktif meneliti dan
menulis. Ia memaksa kampus untuk lebih serius membangun budaya akademik. Ia
mempertemukan kampus dengan jaringan keilmuan yang lebih luas. Bahkan dalam
jangka panjang, ia akan memengaruhi kualitas mahasiswa, karena mahasiswa tumbuh
di lingkungan yang akrab dengan riset, argumentasi, dan tradisi ilmiah.
Maka, capaian dua jurnal ini
seharusnya tidak hanya dirayakan oleh pengelola jurnal semata. Ini adalah
prestasi seluruh sivitas akademika, sekaligus tantangan bersama. Sebab setelah
pengakuan datang, maka tanggung jawab pun ikut membesar.
Kita tentu berharap, ke depan,
kampus memberi perhatian yang lebih serius terhadap penguatan jurnal ilmiah.
Support fasilitas, pendanaan, pelatihan, insentif, dan kebijakan afirmatif
harus menjadi bagian dari agenda kelembagaan. Sebab bila jurnal dikelola dengan
sungguh-sungguh, maka sesungguhnya kampus sedang menyiapkan dirinya untuk naik
kelas secara terhormat.
Pada akhirnya, sebuah kampus akan
dikenang bukan hanya karena pernah berdiri, tetapi karena apa yang berhasil ia
sumbangkan kepada dunia ilmu pengetahuan. Dan jurnal ilmiah adalah salah satu
cara paling terhormat untuk meninggalkan jejak itu.
Karena itu, capaian SINTA 4 ini harus disambut bukan hanya dengan ucapan selamat, tetapi dengan tekad yang lebih besar: menjadikan jurnal sebagai martabat kampus, dan kampus sebagai rumah bagi lahirnya gagasan-gagasan besar.
Oleh:
Dr. Ubaidillah Afief, M.Pd.I.
©Tim IT STAI Al Utsmani 2024

